Tenaga Kerja Indonesia | TKI Berangkat Dari Desa

7 comments 2832 views

Tenaga Kerja Indonesia yang di singkat dengan tiga kata TKI  jika ada di desa hal yang istimewa jika di denger di desa jika ada tetangga yang bertanya "kerja di mana lek ? " (kata khas jawa timuran) jawab seorang TKI dengan senyum "Kerja di malaysia" . anggapan masyarakat kerja di luar negeri menghasilkan banyak uang dan bisa merubah nasibnya di desa namun apa yang terjadi setelah kembali ? benarkah demikian ?  jawabannya benar semua hutang bisa di bayar, kehidupan menjadi lebih baik bisa membeli sepeda motor baru, memperbaiki rumah menjadi anti bocor tapi apakah bisa berlangsung dengan lama ? iyah seperti itulah sebagian besar menjadi orang perantau di negeri orang kalau tidak di bekali dengan ilmu yang memadai dan kemampuan  hanya bisa menjadi jangka pendek tanpa harus berfikir jangka panjang. 

Pilihan menjadi TKI

Disisi lain keberangkatan ke luar negeri tidak ada yang di salahkan dan di permasalahkan karena keadaan ekonomi yang minim untuk mencukupi kebutuhannya apalagi untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya sedangkan untuk memenuhi itu jika hanya di desa iya begitu saja tidak ada yang lebih di utamakan dari pendapatan seorang petani yang memiliki kebun sempit akhirnya menjadi tenaga kerja indonesia ilegal pun di lakukan bermodal dengan kawan lamanya berangkat modal nekat dengan menjual sebagian hartanya entah itu emas atau hewan pemeliharaanya tanpa di bekali keterampilan yang mumpuni dan mengandalkan otot dan tubuh yang kuat menjadi petani kepala sawit alternatifnya, bagi TKI dan menjadi buruh rumah tangga yang TKW. masih mending bagi TKW masih di bekali dengan cara-cara menggunakan alat-alat rumah tangga jika itu berangkat dengan legal.

Ilegal dan non ilegal TKI menjadi masalah tenaga kerja indonesia di saat sudah sampai di luar negeri legalitas sangat penting jika menjadi imigran ilegal manjadi burunan polisi sekitar sampai harus berkejar-kejaran di hutan yang rimba padahal jika di desa sendiri tidak pernah bermasalah seperti itu. bekerja di luar negeri menjadi "petani" tidak jauh beda dengan kondisi di rumah namun petani milik orang lain bukan petani tanah sendiri itu pun jika waktunya bayaran/gajian di goda dengan wanita-wanita penghibur di daerah sekitar jika tidak tahan habislah uang selama satu bulan berkerja di buat semalam bahkan dari beberapa TKI masih bertahan bertahun-tahun tidak pulang dan berkali-kali di aniaya polisi.

Proses menjadi tenaga kerja indonesia legal sangat ribet dan menghabiskan banyak uang untuk membayar atau menyuap beberapa orang agar bisa menjadi TKI atau TKW padahal bahasa negara yang di tuju masih belum mengerti bahkan masih buta aksara bisa di berangkat makanya harus menyuap beberapa orang (kebudayaan ***) kalau legal harus menyertakan beberapa surat seperti KTP,Kartu Keluarga,Ijazah terakhir,Izin dari Orang tua hingga diketahui oleh Lurah/kepala Desa setempat,Lulus pelatihan di Agen PPTKIS (Perusahaan Pengerah Tenaga Kerja Indonesia Swasta), Passport dan lainya, yang menjadi permasalahan lagi  apakah mau mengurusi beberapa surat seperti itu dengan cepat ? belum lagi harus bayar beberpa juta jika ingin lancar dan berlangsung cepat. aneh yah ?!! seperti itulah kondisi negara indonesia tercinta semua harus ada uang pelicin biar lancar. pasti warga menginginkan cara yang cepat dan mudah dengan harus banyak biaya jika ingin legal jika tidak memiliki banyak uang harus menjadi non legal 🙁

TKI Tenaga Kerja Indonesia

Dukungan negara untuk TKI, Apakah menjamin perlindungan tenaga kerja indonesia ? benar di lindungi jika memang legal (kata-katanya) namun sudah tau akibat-akibat menjadi TKI, warga masih banyak yang ingin menjadi TKI di negara-negara luar negeri padahal kasus sudah banyak terjadi entah penganiayaan atau sampai pembunuhan tapi kembali lagi ke awal semua berawal dari kebutuhan ekonomi yang mendesak mereka yang mendorong berangkat luar negeri untuk menjadi yang lebih baik *KATANYA*.

Penulis tidak banyak kata karena tulisan ini di ceritakan dari tetangga yang kerja malaysia sebagai petani kelapa sawit tidak di alami sendiri oleh penuli dan penulis hanya berbagi  dan berpesan (bukan sok karena hidup ini pilihan) :

  • Jadilah TKI yang berkualitas karena TKI menjadi pengukuran kualitas suatu negara kita,
  • Jadilah TKI yang membawa ikon negara indonesia jangan sampai hilang kebudayaan dan norma budaya indonesia
  • Pikirkan jangka panjang menjadi TKI jika pulang harus ada usaha untuk jangka selanjutnya

sekian semoga bermanfaat berbagi dan berguna untuk semua...

Foto di ambil dari :

http://www.shnews.co

http://skalanews.com

author
Linuxer | Blogger | Pencinta Kuliner | Suka Jalan2 | Pecandu sosial media
  1. author

    SlameTux5 years ago

    Hmmm harapan besar bagi mereka untuk mendapatkan penghasilan di negara tetangga… semoga menang kontes dah… hehehe 😀

    Reply
    • author
      Author

      fazza5 years ago

      saya tidak terlalu niat menang atau tidak tapi hanya berbagi keluhan dan pembenaran seseorang imigran 😀

      Reply
  2. author

    abdina5 years ago

    saat dirumah sendiri tak merasa nyaman, anak cucu butuh suapan.
    kalau seperti ini yang salah pemerintah tidak bisa menyediakan lapangan kerja bagi rakyatnya

    Reply
  3. author

    Rusa4 years ago

    Orang Bawean banyak banget yg kerja di luar negeri, tapi lebih ke Malaysia dan Singapura 😀

    Reply
    • author
      Author

      fazza4 years ago

      beneran tuh tetanggan kebanyakan di malaysia juga 🙂

      Reply
  4. author

    adang4 years ago

    menyentuh bicara soal TKI ini,..
    inspiratif..

    Kunjungan blogwalking.
    Sukses selalu..
    kembali tak lupa mengundang juga rekan blogger
    Kumpul di Lounge Event Blogger "Tempat Makan Favorit"

    Salam Bahagia

    Reply
  5. author

    Ahmad Asa4 years ago

    Saya temui blog ini saat berkunjung ke website buruh migran. Ternyata di sana daftar peserta blog dipajang dan diarahkan linknya ke masing-masing blog.

    Reply

Leave a reply "Tenaga Kerja Indonesia | TKI Berangkat Dari Desa"

______Anti Spam____ * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.