Menikahlah Nak Manakala Dirimu Sudah Benar-Benar Siap

Pagi ini ada berasa beda, sumpah beda menurutku, ada energi yang secara tak terduga mendongkrak, seperti faza yang sesungguhnya telah lahir kembali, yang selama ini memang menurutku memang hampa, hampa dengan kehidupan yang aku jalani, *abaikan.

pagi ini tidak seperti biasanya bangun tidur bebenah dan menyiapkan kopi untuk memulai pagi ini, aku memilih membuka laptop dan membuka sosmed serta membaca beberapa blog, dan entah kenapa pengen banget ngomel di twit soal hari belanja online kemaren, bukan karena saya gak dukung dan ngikut share-share yang katanya belanja online bohong itu.

di selingan twit, aku baca twit temen kantor yang berisi tentang nikah, ah mulai deh, seusiaku ini udah mulai di bisingkan dengan soal beginian. sepertinya butuh kopi pagi ini, saya putuskan untuk minum air putih dulu sebelum membuat kopi. 

Kopi masih dibuat, airnya masih mendidih sambil menunggu sebelum menuangkan, twit itu sepertinya menarik di baca, klik dan buka dengan browser bawaan hp yang keren ini. 


Menikahlah nak manakala dirimu sudah benar-benar siap. Siap di sini bukan hanya faktor usia, pendidikan dan finansial. Tapi benar-benar siap menerima orang lain untuk menjadi bagian dari diri kita. Seperti daging dengan darah.

Ilmu mengenal diri harus benar-benar diamalkan.Kalau kita seorang pencemburu, posesif, sangat mengagungkan privasi, jangan menikah dengan aktifis populer dan relawan yang murah hati lapang segala.Jika kita seseorang yang mau benar sendiri tak mau dibantah, jangan bermimpi punya pasangan cerdas, dan sehat yang pastinya kritis.

Banyak orang sesumbar ingin punya pasangan shalih/shalihah, cerdas, sehat, kaya, pemurah, dari keluarga “Intelek” dsb..dsb. Lalu setelah menikah stress sendiri karena tak mampu mengimbangi gaya hidup orang “Intelek” karena masih suka sembarangan.

Jadi ya mari mengukur dan memantaskan diri.Pernikahan bukan “Kamar Sakti” yang membuat orang berubah. Jadi jangan bermimpi setelah menikah bisa merubah pasangan. Yang paling bisa kita lakukan hanya penyesuaian, pemaafan, dan pengikhlasan yang tiada akhir

Karena nenek moyang kita dari jaman baheula sudah berulang-ulang mengingatkan, bahwa cinta adalah pengorbanan. Terdengar sangat klise. Namun sangat benar adanya.

Bunda Tatty Elmir

(Founder Forum Indonesia Muda, ASA Indonesia)

Jos Gandos

(Source: andinavika )

Air sudah mendidih dan kopi siap di nikmati, sepertinya pagi ini cerah dan matahari mulai masuk kamar, pertanda bergegas bebenah dulu sebelum mengawali pagi ini.

Semanagat pagi kawan....

author
Linuxer | Blogger | Pencinta Kuliner | Suka Jalan2 | Pecandu sosial media

Leave a reply "Menikahlah Nak Manakala Dirimu Sudah Benar-Benar Siap"